Embun..

Menggantung di ujung Daun

Kala pagi kembali bersua. Dingin perlahan kan sedikit menyeruak raga. Saat dimana hamparan permadani kan dihiasi untaian kemilau berlian alami yang kan berkilau diterpa cercah mentari. Dimana biasa orang mengabaikan mereka yang pasrah kan tergeletak atau kan terbentuk dimana. Itulah embun pagi. Sering orang tak memandang, namun dia kan tetap ada suka atau tidak suka diri kita.

Embun pagi itu begitu polos dan sangatlah sederhana, tak berwana, serta dapat berubah bentuk sesuai apa yang dilaluinya atau tempat apapun dia ada. Itulah yang membuat dedaunan begitu menyukainya.

Apa yang dapat kita ambil dari polosnya embun? Kita harusnya dapat mengambil kesederhanaan dari embun, datang dengan keindahan yang tak menyakiti siapapun.. kita seharusnya lebih banyak menebar kasih tanpa menyudutkan atau mengulik apapun dan siapapun. Dengan kita ada, tidak perlulah merubah atau “hanya” menampilkan atau menjadi pribadi yang berbeda dengan diri kita. Tidaklah perlu merubah diri untuk memikat siapapun, termasuk Tuhan. Cukuplah kita tampil dengan kesederhanaan dan apa adanya, cukup kita tampilkan hati kita yang penuh kasih dan terus menebar kebaikan yang haqiqi. Teruslah kita melangkah dengan mencari keridhoan Tuhan tanpa perlu kita sibuk untuk uforia fana kesenangan dunia.

Let’s trying to keep going to be the best..

Comments